Rabu, 29 Februari 2012

Asal Usul Nenek Moyang Indonesia

KEDATANGAN NENEK MOYANG KE INDONESIA


Siapa sebenarnya nenek moyang Bangsa Indonesia, dari mana asal-usulnya, dan sejak kapan mereka mulai menempati bumi Nusantara ini dan beranak-pinak?

Pertanyaan tersebut bisa dijawab dengan mempelajari peninggalan arkeologi serta bantuan disiplin ilmu lainnya seperti ilmu linguistik, antropologi budaya, paleoantropologi atau ilmu genetika.

TEORI ASAL-USUL BANGSA INDONESIA

Beberapa teori atau pendapat yang berbeda-beda tentang asal-usul manusia dan masyarakat Indonesia :

1. Van Heine Geldern (sosiolog dan sejarawan Belanda)

Terjadi perpindahan penduduk dari Asia ke pulau-pulau di sebelah selatan Asia atau yang disebut Austronesia (Pulau Selatan). Bangsa yang mendiami pulau itu adalah bangsa Austronesia. Wilayah Austronesia meliputi pulau-pulau yang membentang dari Madagaskar sampai pulau Paskah, Taiwan dan Selandia baru. Mereka membawa kebudayaan Neolithikum. Ada juga bangsa Austronesia yang tinggal di pulau yang terletak antara benua Asia dan Asutralia yaitu di daerah Yunan dan membawa kebudayaan Yunan. Diperkirakan mereka masuk ke Indonesia melalui 2 gelombang yaitu +/- tahun 2000 SM dan 200 SM. Alasan nenek moyang Bangsa Indonesia meninggalkan daerah asalnya masing-masing adalah karena adanya bencana alam dan serangan dari suku bangsa lain.

2. Dr.H.Kern (ahli Bahasa)

Berdasarkan penelitian terhadap 113 bahasa daerah di Indonesia tahun 1899, disimpulkan bahwa masing-masing bahasa ada kemiripan , sehingga disimpulkan bahwa bahasa daerah yang ada di Indonesia berasal dari satu rumpun yang sama yaitu bahwa Austronesia.

Orang-orang Austronesia yang memasuki wilayah nusantara, dalam perkembangannya disebut bangsa melayu Indonesia. Mereka inilah yang menjadi nenek moyang langsung bangsa Indonesia.

Bangsa Melayu dibedakan menjadi 2 suku bangsa, yaitu :

a. Melayu Tua (Proto Melayu)
yang mewarisi kebudayaan Paleolithikum (Bacson-Hoabinh). Suku bangsa Indonesia yang termasuk anak ketrunan ini adalah suku Dayak dan Toraja.

b. Melayu Muda(Deutero Melayu)
Yang mewarisi kebudayaan Perunggu (Dongson). Suku bangsa Indonesia yang termasuk keturunan ini adalah suku Jawa, Melayu dan Bugis.

ILMU GENETIKA

Dari fosil-fosil yang ditemukan, jejak-jejak hadirnya makhluk berciri manusia di kepulauan Nusantara ini dapat dirunut kembali paling tidak hingga periode 1,5 juta tahun silam dalam endapan purba sejak kala plestosen bawah di sejumlah situs di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Namun bukan dari spesies ini manusia Indonesia lahir. Diperkirakan pada akhirnya Spesies Homo Erectus dan juga sejenisnya di belahan dunia lainnya kandas sejutaan tahun lampau dan terpisah dari masa ketika manusia murni atau Homo Sapiens pertama muncul di bumi hanya seratusan ribu tahun yang lalu.

Sejauh ini komponen fosil Homo Sapiens yang ditemukan di gua-gua hunian pra sejarah di nusantara ini berasal dari awal kala Helosen dan menunjukkan ciri-ciri Sapiens murni tanpa kaitan dengan Homo Erekctus yang masanya berbeda jauh.

Lalu siapakah persisnya Homo Sapiens nenek moyang kita? Betulkah orang-orang yang menggunakan bahasa Austronesia pada 5.000 tahun lalu, bahasa yang menjadi cikal-bakal bahasa Melayu dan digunakan bangsa Indonesia sekarang ini? Dari mana asal-usulnya?

ILMU LINGUISTIK

Dari studi linguistik, bangsa Indonesia adalah penutur Austronesia. Bahasa ini, dibanding rumpun bahasa yang ada di dunia pada masa itu seperti Indo Eropa, Aria Barat, dan Aria Timur,atau Semit cukup fenomenal.

Bahasa Austronesia ini memiliki sebaran paling luas di dunia sebelum masa kolonialisasi Barat, dan mencakup lebih dari 1.200 bahasa yang tersebar dari Madagaskar di barat hingga Pulau Paskah di timur serta Taiwan di utara hingga Selandia Baru di selatan.

Bahasa tersebut kini dituturkan lebih dari 300 juta manusia yang penuturnya memiliki latar belakang budaya yang amat beragam, dari masyarakat pemburu-peramu, para pengelana laut, kaum nelayan, hingga masyarakat agraris, dan pedagang modern. Sebesar 80 persen Tinggal di kepulauan Indonesia

PERDEBATAN

Mengenai asal-usul rumpun bangsa berbahasa Austronesia yang menjadi cikal-bakal bangsa-bangsa di Asia Tenggara dan Asia Pasifik masih menjadi perdebatan, apakah berasal dari Formosa (Taiwan), dataran Sunda, Hainan (Hongkong), Yunan (China Selatan), Filipina atau bahkan Jepang.

Menurut Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Harry Truman Simanjuntak, rumpun Austronesia sendiri merupakan bagian dari bahasa Austrik yang berawal di daratan Asia dan terbagi dua.

Dua rumpun itu Austro Asiatik yang menyebar di daratan Asia, misalnya, bahasa yang dituturkan Mon-Khmer di Indochina, Thai, dan Munda di India Selatan serta bahasa Austronesia yang menyebar ke selatan tenggara seperti Indonesia, Filipina, Malaysia, hingga Kepulauan Pacific.

Teori yang dominan yakni Model Out of Taiwan menyebutkan, bahasa Austronesia mulai mengkristal di Formosa (Taiwan) setelah penuturnya bermigrasi ke pulau itu pada 6.000 tahun lalu dari daratan china Selatan, mungkin sekitar Fujian atau Guangdong.

Proses ini melahirkan bahasa Austronesia awal dan budayanya diwakili budaya Da-pen-keng. Budaya dan bahasa ini segera terpecah menjadi beragam budaya dan dialek lokal pada sekitar 4.700 tahun lalu.

Pada masa itu penutur Austronesia awal ini kemudian mengenal domestikasi babi dan anjing serta menanam padi, ubi, dan tebu, membuat kain kulit kayu dan gerabah, serta menggunakan peralatan dari batu dan tulang juga membuat kano.

Beberapa kelompok dari para penutur Austronesia itu kemudian mulai menjelajahi kepulauan Asia Tenggara pada 4.500 tahun lalu, khususnya ke Filipina Utara dan kalimantanUtara.

Kelompok pemukim awal ini akhirnya menciptakan bahasa Proto Malayo Polynesia (PMP) yang merupakan cabang dari induknya Proto Austronesia.

Di kawasan baru itu perbendaharaan tanaman yang dibudidayakan bertambah dari pertanian biji-bijian ditambah dengan kelapa, sagu, sukun dan pisang.

Pada masa itu teknologi pelayaran mereka makin canggih. Ada yang bermigrasi ke arah timur menuju Mikronesia, ada yang menuju ke arah selatan melalui Filipina Selatan ke Kalimantan, Sulawesi dan Maluku Utara.
.

Selanjutnya dari Kalimantan dan Sulawesi gerak migrasi mengarah ke Jawa dan Sumatera serta Semenanjung Malaka. Sedangkan yang dari Maluku Utara ke selatan menuju Nusa Tenggara dan ke timur ke pantai utara Papua Barat dan terus ke timur hingga ke Kepulauan Bismarck.



Ketika bermigrasi ke arah timur pertanian biji-bijian ditinggalkan karena lingkungan tak mendukung dan menggantinya dengan menanam berbagai umbi-umbian.

Menurut Pakar Arkeologi lainnya, Daud Aris Tanudirjo, persebaran tersebut berlangsung sekitar 4.000 hingga 3.300 tahun lalu dengan ditandai luasnya distribusi gerabah berpoles merah. Kemampuan mengarungi lautan jarak jauh mendorong mereka bermigrasi lompat katak dengan mengarungi daerah-daerah yang jauh dan melewati daerah-daerah yang dekat.

Selain bahasa Proto Malayo Polynesia yang berkembang di Barat, juga berkembang bahasa-bahasa Proto Central Malayo Polynesia yang berpusat di Halmahera, Proto Eastern Malayo Polynesia di kawasan Kepala Burung, dan Proto Oceanic di Kepulauan Bismarck dan kemudian menyebar ke wilayah sekitarnya.

Bentuk rumpun bahasa Austronesia ini lebih menyerupai garu daripada bentuk pohon. Karena semua proto-bahasa dalam kelompok ini, dari Proto Malayo Polynesia hingga Proto Oseania menunjukkan kesamaan kognat yang tinggi, yaitu lebih dari 84 persen dari 200 pasangan kata.

Bahkan menurut Pakar Austronesia Peter Bellwood, berbagai proto bahasa yang pernah tersebar dari Filipina hingga kepulauan Bismarck ketika itu pada dasarnya masih bisa dikatakan satu bahasa dengan sedikit variasi dialek, ujar Daud.

NENEK MOYANG

Jadi bangsa Indonesia merupakan keturunan ras Mongoloid, karena orang-orang asal Formosa yang bermigrasi ke Kepulauan Indonesia bersamaan dengan menyebarnya bahasa Austronesia merupakan ras Mongoloid Selatan ?

Penelitian antropometrik dan tengkorak WW Howell terhadap populasi dari Asia Tenggara dan Asia Pasifik menyimpulkan dua pengelompokan, yakni penduduk Australia (Aborijin) dan Melanesia di Papua Nugini dalam satu kelompok.

Sedangkan penduduk Polinesia-Micronesia-Mongoloid Selatan pada kelompok yang lain, di mana nenek moyang penduduk Polynesia dan Micronesia secara fenotif memang lebih dekat kepada Mongoloid daripada ras Austomelanesid.

Dari studi genetik dengan penelitian mitochondrial DNA juga membuktikan bahwa penduduk Polinesia, yakni penutur bahasa Proto Malayo Polynesia, memiliki ciri genetika "9 base-pair deletion" yang menjadi ciri khas penduduk Asia Timur.

Namun, penemuan kerangka manusia di pegunungan Sewu menunjukkan adanya kohabitasi antara dua ras Australomelanesid dan Mongolid dalam waktu hampir bersamaan jauh sebelum datangnya para penutur Austronesia yang berciri ras Mongoloid.

Dalam situs itu kerangka berciri Austromelanesoid dikubur dengan posisi terlipat berada di situs yang sama dengan manusia berciri ras Mongoloid yang dikubur dengan posisi terbujur.

Kerangka yang ditemukan di situs-situs itu memiliki pertanggalan 4.500-7.000 tahun lalu (Song Keplek, Pacitan) dan 9.800-13.000 tahun lalu (Gua Braholo, Gunung Kidul).

Ras Australomelanesid sendiri, kata Harry Widianto dari Balai Arkeologi Yokyakarta, diduga bermula dari daratan Asia Tenggara yang bermigrasi sekitar 10 ribu tahun lalu kearah selatan dan dataran bagian barat.

Bukti-bukti digarisbawahi dengan peninggalan di Vietnam, Thailand, dan Indonesia bagian barat, kemudian ras tersebut menyebar ke daerah yang lebih timur di Nusa Tenggara.

Menurut Daud Aris, migrasi petani Austronesia di berbagai tempat di nusantara telah menyebabkan tersingkirnya penduduk Austromelanesoid yang mengandalkan kehidupannya dari berburu dan mengumpulkan makanan ke wilayah lebih timur dan selatan seperti Papua dan Australia.

Namun demikian penemuan manusia Wajak dekat Tulungagung yang membawa ciri Mongoloid pada bagian wajah sekaligus Austromelanesid dari bentuk umum tengkoraknya menunjukkan adanya percampuran kedua ras.

Percampuran dua ras itu sudah ada sebelum penutur Austronesia yang berciri Mongloid datang ke nusantara, karena perkiraan pertanggalannya 11 ribu tahun lalu.

Dengan demikian kenyataan itu melemahkan model Out of Taiwan dan memperkuat teori S Oppenheimer yang menyatakan asal-usul penutur Austronesia berasal dari dataran Sunda sebelum zaman es mencair.

KESIMPULAN

Jadi bangsa Indonesia merupakan percampuran antara dua ras Austromelanesid dan Mongolid yang mendiami bumi nusantara gelombang demi gelombang dan bercampur dengan rumpun Aria dari India, bangsa Semit dan Eropa di masa-masa modern sesudahnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar